Warna-Warni Laskar Pelangi

Oktober 9, 2008

Laskar Pelangi. Banyak hal memenuhi ruang pikiran dan perasaanku sehabis membaca novel dan menonton filmya. Sekarang aku mencoba menstrukturkan semua itu dengan cara menuliskannya, dan mencoba menuliskannya dengan gaya agak “beda” :D. Semoga juga bermanfaat bagi yang lain.

Warna paling cerah dari pelangi itu

Lintang memotong penuh minat, kami ternganga-nganga, Bu Mus tersenyum senang. Beliau menyampingkan ego. Tak keberatan kuliahnya dipotong. Beliau memang menciptakan atmosfer kelas seperti ini sejak awal. Memfasilitasi kecerdasan muridnya adalah yang paling penting bagi beliau. Tak semua guru memiliki kualitas seperti ini. Bu Mus menyambung, “Negeri yang terdekat itu…”

“Byzantium! Nama kuno untuk konstantinopel, mendapat nama belakang itu dari The Great Contantine. Tujuh tahun kemudian negeri itu merebut lagi kemerdekaannya, kemerdekaan yang diingatkan dalam kitab suci dan diingkari kaum musyrik Arab, mengapa ia disebut negeri yang terdekat (adnal ardli, red) Ibunda Guru? Dan mengapa kitab suci ditentang?”

“Sabarlah anakku, pertanyaanmu menyangkut penjelasan tafsir surah Ar-Ruum dan itu adalah ilmu yang telah berusia paling tidak seribu empat ratus tahun. Tafsir baru akan kita diskusikan nanti kalau kelas dua SMP…”

“Tak mau Ibunda, pagi ini ketika berangkat sekolah aku hampir diterkam buaya, maka aku tak punya waktu menunggu, jelaskan di sini, sekarang juga!”

Kami bersorak dan untuk pertama kalinya kami mengerti makna adnal ardli…

Penggalan dialog di ataslah yang pertama kali memberiku sensasi tersendiri tentang karakter Lintang yang menarik. Tampak benar antusiasme, semangat, kecerdasan, rasa syukur, rendah hati, pengorbanan, rasa penghargaan terhadap ilmu, dan rasa penghargaan terhadap hidup yang besar dari anak pesisir itu. Anak sekecil itu.

Menurutku, dialah warna yang paling cerah dari pelangi itu. Bisa jadi penulisnya terlalu melebih-lebihkan karakternya, tapi dugaan itu tidak merubah persepsiku dan semangatku yang diakibatkannya.

Ikal menyebut Lintang seperti mercusuar yang menerangi dan menjadi petunjuk, memberikan semangat hidup, mengangkat rasa percaya diri teman-temannya yang miskin dan berasal dari sekolah kampung. Membuat mereka berani untuk bercita-cita.

Si jenius didikan alam itu menjadi inspirasi luar biasa bagi Laskar Pelangi. Sang penulis tak berlebihan nampaknya. Semangatnya bahkan sampai kepadaku yang hidup berbeda zaman dengannya, dan mengenalnya, bahkan hanya dari sebuah novel.

Mungkin dia lebih berhak

Lintang harus menempuh 80 km perjalanan rumah-sekolah setiap harinya. Bahkan perjalanan yang berbahaya, mengancam nyawa. Tapi dia datang paling pagi dan tidak pernah membolos. Semangat yang luar biasa.

Tapi sayang, sang Elvis harus meninggalkan tempat lebih awal. Ayahnya meninggal dunia dan kini, dia, sebagai anak laki-laki tertua, yang harus menghidupi 14 orang anggota keluarganya. Dia bahkan belum lulus SMP. Dia tidak punya peluang untuk melanjutkan sekolah.

Air mataku meleleh ketika disuguhkan adegan perpisahan antara Lintang dengan teman-teman dan gurunya di gerbang SMP Muhammadiyah dalam filmnya di layar lebar. Bukan hanya aku, semua orang yang nonton bersamaku juga Baca entri selengkapnya »

Cinta Cantik

Juni 11, 2008

Teman : “Dit, aya pantun bagus!”

Temannya Teman : ???

Teman : “Bukanlah titik yang menjadikan tinta, tapi tinta yang menjadikan titik.”

Temannya Teman : “terus?”

Teman : “Bukanlah cantik yang menjadikan cinta, tapi cinta yang menjadikan cantik.”

Temannya Teman : *Nyengir* “Bagus juga pantunnya 😀 (dalam hati: ‘bener gak ya?’)”

Sekitar hari Selasa, 15/1/2008 saya membeli sebuah novel karangan Mitch Cullin, ”Sherlock Holmes Misteri yang Tak Terpecahkan”. Sekarang novel tersebut sudah selesai dibaca. Waktu yang saya perlukan untuk menyelesaikannya cukup lama (sekitar 5 hari) karena banyak kesibukan lain, terutama di hari jumat – ahad.

Gambaran isi novel ini, seperti yang tertulis di sampul belakangnya, adalah seperti ini:

“Sherlock Holmes, di usianya yang hampir satu abad menghabiskan masa pensiunnya di dengan tenang di pelosok Sussex, di sebuah rumah peristirahatan berikut peternakan lebahnya, Sherlock menghindar dari hiruk-pikuk kota, tetapi ketenarannya tak bisa disembunyikan, orang-orang masih saja menghubunginya untuk memecahkan masalah persoalan yang mereka alami.Dua buah kasus lamapun mengusik ingatan Sherlock, pertama tentang pencarian seorang anak lelaki terhadap ayahnya yang hilang, kedua tentang misteri seorang istri yang bertingkah laku aneh. Tak disangka terjadilah kasus ketiga, pembunuhan di peternakan lebahnya, Sherlock kali ini harus berhadapan dengan misteri yang menyelubungi kehidupannya sendiri, juga tentang rahasia cinta sejatinya.”

Setelah selesai dibaca, ternyata isi ceritanya di luar dugaan saya semula. Awalnya saya membayangkan akan ada sebuah kasus yang sangat pelik dengan teka-teki atau semacamnya disertai adegan-adegan menegangkan sebagai kasus pamungkas Holmes. Namun, ternyata tidak begitu. Daya tarik novel ini bukanlah pada kerumitan kasusnya atau adegan-adegannya yang menegangkan, melainkan lebih kepada petualangan emosional pada diri si detektif terkenal tersebut, dengan penekanan pada sisi-sisi kemanusiaan dan kejiwaannya. Sampai ada komentar dalam Pages, sebagaimana dapat dibaca pada sampul belakang buku ini, ”…Cullin membuat Holmes lebih manusiawi…”

Novel ini pun merupakan novel yang rumit dari segi alur penceritaannya yang maju-mundur menggabungkan tiga cerita sekaligus. Namun, cara pengarangnya bercerita membuat novel ini lebih mudah dipahami.

Pengarang asli kisah Sherlock Holmes bukanlah Cullin, melainkan Conan Doyle. Saya pikir, pembaca novel ini yang tidak pernah membaca satupun karya Doyle akan sedikit kebingungan pada detil-detil tertentu. Jadi, sebaiknya bacalah barang satu buah karya Doyle sebelum membaca novel ini.

Meskipun Doyle adalah pencipta asli tokoh Sherlock Holmes, nampaknya Cullin-lah yang (seolah-olah) lebih berhak dan lebih tahu tentang karakter Holmes ini (seakan Doyle hanyalah seorang Dr. Watson yang menceritakan kisah temannya–Holmes, tetapi Cullin adalah Holmes-nya).

Novel ini benar-benar menyentuh pembacanya tentang gejala penuaan yang dialami seorang manusia, tentang ke-fana-an kehidupan di dunia. Inilah, saya pikir, moral utama dari novel ini. Segala yang kita punya, baik itu kecerdasan, ingatan, kekuatan, bahkan orang-orang yang kita cintai satu persatu akan meninggalkan kita. Satu per satu hingga kita tidak memiliki apa-apa lagi. Semua yang kita miliki di dunia hanyalah sementara, karena kehidupan dunia memang hanya sementara.

Kasihan bangsa yang memakai pakaian yang tidak ditenunnya,
memakan roti dari gandum yang tidak dituainya
dan meminum anggur yang tidak diperasnya

Kasihan bangsa yang menjadikan orang bodoh menjadi pahlawan,
dan menganggap penindasan penjajah sebagai hadiah.

Kasihan bangsa yang meremehkan nafsu dalam mimpi-mimpinya ketika tidur,
sementara menyerah padanya ketika bangun.

Kasihan bangsa yang tidak pernah angkat suara
kecuali jika sedang berjalan di atas kuburan,
tidak sesumbar kecuali di runtuhan,
dan tidak memberontak kecuali ketika lehernya
sudah berada di antara pedang dan landasan.

Kasihan bangsa yang negarawannya serigala,
falsafahnya karung nasi,
dan senimannya tukang tambal dan tukang tiru.

Kasihan bangsa yang menyambut penguasa barunya
dengan trompet kehormatan namun melepasnya dengan cacian,
hanya untuk menyambut penguasa baru lain dengan trompet lagi.

Kasihan bangsa yang orang sucinya dungu
menghitung tahun-tahun berlalu
dan orang kuatnya masih dalam gendongan.

Kasihan bangsa yang berpecah-belah,
dan masing-masing mengangap dirinya sebagai satu bangsa.

~ Khalil Gibran