obamasiteAda beberapa hal menarik dari perhelatan demokrasi di Amerikas Serikat baru-baru ini, yaitu pemilu Obama vs McCain. Ketiga hal ini memberi gambaran tentang sesuatu yang disebut government 2.0, dan bahkan bisa digunakan dalam praktek bisnis.

Pertama, gunakan social media secara serius. Mungkin selama ini social media seperti jejaring sosial, web, forum, tidak pernah digunakan secara serius. Mungkin hanya untuk “say hi” atau nyampah. Jika ada penarikan masukan terkait sesuatu, biasanya tidak diberi tanggapan secara serius dan tidak benar-benar bisa merubah kebijakan.

Saatnya Baca entri selengkapnya »

golputKalau dulu (sebelum reformasi), nyoblos gak nyoblos gak ada bedanya. Yang menang pasti yang kuning. Ibarat permainan, dari aturannya aja udah gak mungkin menang. Jadi buat apa nyoblos.

Setelah reformasi, aturan mainnya udah mulai fair. Siapa aja punya kesempatan yang sama untuk menang. Jadi golput tidak lagi relevan.

Kebanyakan orang memilih golput karena beberapa alasan:

Melepaskan tanggung jawab, seandainya pemimpin yang kepilih nggak menjalankan amanahnya dengan baik. Dia merasa jika tidak ikut memilih, dia tidak ikut bertanggung jawab terhadap kerusakan yang akan ditimbulkan oleh ketidakamanahan pemimpin tersebut. Berhubung kondisi di Indonesia ini rata-rata pejabatnya gak amanah, alasan seperti ini bisa dipahami.

Tapi tetap gak bisa diterima. Untuk orang seperti ini Baca entri selengkapnya »

Persatuan

Januari 20, 2009

Sesungguhnya kami berada di ujung kemenangan history, strategi dan Rabbani Ilahi, dan kemenangan ini bukan hanya milik satu brigade, satu partai atau satu distrik, namun ini merupakan kemenangan seluruh warga; yang di dalamnya berpartisipasi seluruh bangsa Palestina, kemenangan umat yang telah mewujudkan simpati dan empatinya sepanjang agresi, dan kemenangan kemanusiaan yang ikut di dalamnya manusia yang cinta kemerdekaan di muka bumi ini.” – Ismail Haniya, Perdana Menteri Palestina

Ketika tentara Israel menyerang Gaza, sesunguhnya bukan hanya mereka yang berperan. Di sana juga ada politisi yang melakukan lobi-lobi di Amerika. Ada media yang ikut melakukan propaganda. Ada korporasi yang menyumbangkan dana dan amunisi. Ada sekutu yang mendiamkan atau ikut mendukung Israel, dan sebagainya.

Intinya, mereka bersatu sedangkan kita tidak Baca entri selengkapnya »

child_palestine_02Mungkin aneh kalau kita mendengar cerita bahwa pejuang kemerdekaan Indonesia dulu berperang melawan penjajah Belanda dengan bambu runcing. Mana mungkin menang? Mungkin perang memang tidak dimenangkan dengan bambu, tapi bisa jadi dimulai dari sana. Tapi Baca entri selengkapnya »

knrp1Semoga ini bisa menjawab. Tulisan ini copy paste dari milis. Kalau bisa, baca juga artikel ini.

Kalau ada ribut-ribut di negara- negara Arab, misalnya di Mesir,
Palestina, atau Suriah, kita sering bertanya apa signifikansi dukungan
terhadap Negara tersebut. Misalnya baru-baru ini ketika Palestina
diserang. Ngapain sih mendukung Palestina?

Pertanyaan tersebut diatas sering kita dengar, terutama karena kita
bukan orang Palestina, bukan bangsa Arab, rakyat sendiri sedang susah,
dan juga karena entah mendukung atau enggak, sepertinya tidak
berpengaruh pada kegiatan kita sehari-hari.

Padahal, untuk yang belum mengetahui.. kita sebagai orang Indonesia
malah berhutang dukungan untuk Palestina. Baca entri selengkapnya »

Warna-Warni Laskar Pelangi

Oktober 9, 2008

Laskar Pelangi. Banyak hal memenuhi ruang pikiran dan perasaanku sehabis membaca novel dan menonton filmya. Sekarang aku mencoba menstrukturkan semua itu dengan cara menuliskannya, dan mencoba menuliskannya dengan gaya agak “beda” :D. Semoga juga bermanfaat bagi yang lain.

Warna paling cerah dari pelangi itu

Lintang memotong penuh minat, kami ternganga-nganga, Bu Mus tersenyum senang. Beliau menyampingkan ego. Tak keberatan kuliahnya dipotong. Beliau memang menciptakan atmosfer kelas seperti ini sejak awal. Memfasilitasi kecerdasan muridnya adalah yang paling penting bagi beliau. Tak semua guru memiliki kualitas seperti ini. Bu Mus menyambung, “Negeri yang terdekat itu…”

“Byzantium! Nama kuno untuk konstantinopel, mendapat nama belakang itu dari The Great Contantine. Tujuh tahun kemudian negeri itu merebut lagi kemerdekaannya, kemerdekaan yang diingatkan dalam kitab suci dan diingkari kaum musyrik Arab, mengapa ia disebut negeri yang terdekat (adnal ardli, red) Ibunda Guru? Dan mengapa kitab suci ditentang?”

“Sabarlah anakku, pertanyaanmu menyangkut penjelasan tafsir surah Ar-Ruum dan itu adalah ilmu yang telah berusia paling tidak seribu empat ratus tahun. Tafsir baru akan kita diskusikan nanti kalau kelas dua SMP…”

“Tak mau Ibunda, pagi ini ketika berangkat sekolah aku hampir diterkam buaya, maka aku tak punya waktu menunggu, jelaskan di sini, sekarang juga!”

Kami bersorak dan untuk pertama kalinya kami mengerti makna adnal ardli…

Penggalan dialog di ataslah yang pertama kali memberiku sensasi tersendiri tentang karakter Lintang yang menarik. Tampak benar antusiasme, semangat, kecerdasan, rasa syukur, rendah hati, pengorbanan, rasa penghargaan terhadap ilmu, dan rasa penghargaan terhadap hidup yang besar dari anak pesisir itu. Anak sekecil itu.

Menurutku, dialah warna yang paling cerah dari pelangi itu. Bisa jadi penulisnya terlalu melebih-lebihkan karakternya, tapi dugaan itu tidak merubah persepsiku dan semangatku yang diakibatkannya.

Ikal menyebut Lintang seperti mercusuar yang menerangi dan menjadi petunjuk, memberikan semangat hidup, mengangkat rasa percaya diri teman-temannya yang miskin dan berasal dari sekolah kampung. Membuat mereka berani untuk bercita-cita.

Si jenius didikan alam itu menjadi inspirasi luar biasa bagi Laskar Pelangi. Sang penulis tak berlebihan nampaknya. Semangatnya bahkan sampai kepadaku yang hidup berbeda zaman dengannya, dan mengenalnya, bahkan hanya dari sebuah novel.

Mungkin dia lebih berhak

Lintang harus menempuh 80 km perjalanan rumah-sekolah setiap harinya. Bahkan perjalanan yang berbahaya, mengancam nyawa. Tapi dia datang paling pagi dan tidak pernah membolos. Semangat yang luar biasa.

Tapi sayang, sang Elvis harus meninggalkan tempat lebih awal. Ayahnya meninggal dunia dan kini, dia, sebagai anak laki-laki tertua, yang harus menghidupi 14 orang anggota keluarganya. Dia bahkan belum lulus SMP. Dia tidak punya peluang untuk melanjutkan sekolah.

Air mataku meleleh ketika disuguhkan adegan perpisahan antara Lintang dengan teman-teman dan gurunya di gerbang SMP Muhammadiyah dalam filmnya di layar lebar. Bukan hanya aku, semua orang yang nonton bersamaku juga Baca entri selengkapnya »

Ini adalah pidato Muhammad Yunus, sang pelopor mikrokredit, peraih hadiah Nobel Perdamaian 2006, saat upacara wisuda di MIT tanggal 6 Juni 2008.

Pidato ini sungguh menginspirasi bagi saya. Saya cari-cari terjemahannya di internet, tapi tidak ketemu. Akhirnya saya terjemahkan sendiri saja. Maaf kalau ada yang keliru ya, mohon dkoreksi (teks bahasa Inggrisnya? Googling aja ya ;p).

Di MS-Word, pidato ini mencapai tujuh halaman. Sempat terhenti proses penerjemahannya. Biasa, karena kendala motivasi :D. Belakangan termotivasi lagi sehabis nonton Laskar Pelangi. Sangat menyakitkan, Lintang yang jenius harus putus sekolah karena kendala biaya. Pasti banyak sekali Lintang-Lintang lain di negeri ini. Kemiskinan memang menyakitkan. Tapi seperti kata M Yunus, setiap kita adalah mampu untuk mengubah dunia. Dan, inilah teks pidatonya:

Selamat pagi.

Merupakan sebuah kehormatan bagi saya untuk berbicara pada upacara wisuda di institusi yang prestisius ini.

Sungguh perasaan yang mengagumkan berada di sini hari ini. Bersama Anda semua, bagian dari pikiran-pikiran paling cemerlang di dunia, tepat pada saat Anda memutuskan jalan mana yang akan Anda tempuh dalam hidup. Anda merepresentasikan masa depan dunia ini. Pilihan yang Anda putuskan untuk diri Anda sendiri akan menentukan nasib umat manusia. Akan selalu seperti itu. Terkadang kita menyadari hal itu, tapi seringnya tidak. Saya harap Anda akan tetap menyadarinya dan mempersembahkan karya yang membuat Anda diingat bukan hanya sebagai generasi yang kreatif tapi sebagai generasi kreatif yang memiliki kesadaran sosial (socially-conscious creative generation). Cobalah.

Saya tidak pernah membayangkan bahwa hidup saya akan bermanfaat bagi yang lainnya. Namun, di usia 17-an, dengan rasa frustasi dengan situasi ekonomi yang sangat buruk di Bangladesh, saya memutuskan untuk mencoba apakah saya dapat membuat diri saya berguna bagi satu orang miskin dalam sehari di desa dekat kampus universitas tempat saya mengajar. Saya menemukan diri saya dalam keadaan yang tidak familiar. Saya harus menemukan jalan keluar. Karena saya tidak memiliki peta, saya bersandar pada insting dasar untuk melakukannya. Setiap saat saya dapat mundur dari jalan yang tidak jelas ini, tapi saya tidak melakukannya. Saya tetap berjalan menemukan jalan saya sendiri. Beruntung, di akhir, saya menemukannya. Itu adalah mikrokredit dan Grameen Bank.

Baca entri selengkapnya »