Sekitar hari Selasa, 15/1/2008 saya membeli sebuah novel karangan Mitch Cullin, ”Sherlock Holmes Misteri yang Tak Terpecahkan”. Sekarang novel tersebut sudah selesai dibaca. Waktu yang saya perlukan untuk menyelesaikannya cukup lama (sekitar 5 hari) karena banyak kesibukan lain, terutama di hari jumat – ahad.

Gambaran isi novel ini, seperti yang tertulis di sampul belakangnya, adalah seperti ini:

“Sherlock Holmes, di usianya yang hampir satu abad menghabiskan masa pensiunnya di dengan tenang di pelosok Sussex, di sebuah rumah peristirahatan berikut peternakan lebahnya, Sherlock menghindar dari hiruk-pikuk kota, tetapi ketenarannya tak bisa disembunyikan, orang-orang masih saja menghubunginya untuk memecahkan masalah persoalan yang mereka alami.Dua buah kasus lamapun mengusik ingatan Sherlock, pertama tentang pencarian seorang anak lelaki terhadap ayahnya yang hilang, kedua tentang misteri seorang istri yang bertingkah laku aneh. Tak disangka terjadilah kasus ketiga, pembunuhan di peternakan lebahnya, Sherlock kali ini harus berhadapan dengan misteri yang menyelubungi kehidupannya sendiri, juga tentang rahasia cinta sejatinya.”

Setelah selesai dibaca, ternyata isi ceritanya di luar dugaan saya semula. Awalnya saya membayangkan akan ada sebuah kasus yang sangat pelik dengan teka-teki atau semacamnya disertai adegan-adegan menegangkan sebagai kasus pamungkas Holmes. Namun, ternyata tidak begitu. Daya tarik novel ini bukanlah pada kerumitan kasusnya atau adegan-adegannya yang menegangkan, melainkan lebih kepada petualangan emosional pada diri si detektif terkenal tersebut, dengan penekanan pada sisi-sisi kemanusiaan dan kejiwaannya. Sampai ada komentar dalam Pages, sebagaimana dapat dibaca pada sampul belakang buku ini, ”…Cullin membuat Holmes lebih manusiawi…”

Novel ini pun merupakan novel yang rumit dari segi alur penceritaannya yang maju-mundur menggabungkan tiga cerita sekaligus. Namun, cara pengarangnya bercerita membuat novel ini lebih mudah dipahami.

Pengarang asli kisah Sherlock Holmes bukanlah Cullin, melainkan Conan Doyle. Saya pikir, pembaca novel ini yang tidak pernah membaca satupun karya Doyle akan sedikit kebingungan pada detil-detil tertentu. Jadi, sebaiknya bacalah barang satu buah karya Doyle sebelum membaca novel ini.

Meskipun Doyle adalah pencipta asli tokoh Sherlock Holmes, nampaknya Cullin-lah yang (seolah-olah) lebih berhak dan lebih tahu tentang karakter Holmes ini (seakan Doyle hanyalah seorang Dr. Watson yang menceritakan kisah temannya–Holmes, tetapi Cullin adalah Holmes-nya).

Novel ini benar-benar menyentuh pembacanya tentang gejala penuaan yang dialami seorang manusia, tentang ke-fana-an kehidupan di dunia. Inilah, saya pikir, moral utama dari novel ini. Segala yang kita punya, baik itu kecerdasan, ingatan, kekuatan, bahkan orang-orang yang kita cintai satu persatu akan meninggalkan kita. Satu per satu hingga kita tidak memiliki apa-apa lagi. Semua yang kita miliki di dunia hanyalah sementara, karena kehidupan dunia memang hanya sementara.