Persatuan

Januari 20, 2009

Sesungguhnya kami berada di ujung kemenangan history, strategi dan Rabbani Ilahi, dan kemenangan ini bukan hanya milik satu brigade, satu partai atau satu distrik, namun ini merupakan kemenangan seluruh warga; yang di dalamnya berpartisipasi seluruh bangsa Palestina, kemenangan umat yang telah mewujudkan simpati dan empatinya sepanjang agresi, dan kemenangan kemanusiaan yang ikut di dalamnya manusia yang cinta kemerdekaan di muka bumi ini.” – Ismail Haniya, Perdana Menteri Palestina

Ketika tentara Israel menyerang Gaza, sesunguhnya bukan hanya mereka yang berperan. Di sana juga ada politisi yang melakukan lobi-lobi di Amerika. Ada media yang ikut melakukan propaganda. Ada korporasi yang menyumbangkan dana dan amunisi. Ada sekutu yang mendiamkan atau ikut mendukung Israel, dan sebagainya.

Intinya, mereka bersatu sedangkan kita tidak. Kita masih disibukkan dengan friksi-friksi internal. Antar harakah, ormas, partai, kelompok, pendapat, qunut-tidak qunut, tahlilah-tidak tahlilan dsb. Bukan berarti kita tidak perlu membahas itu secara ilmiah, tapi bukankah ukhuwah islamiyah itu wajib dan harus diprioritaskan?

Keanekaragaman harakah sekarang ini merupakan realitas sejak runtuhnya khilafah 1924. Bahkan yang meng-klaim dirinya tidak ber-harakah pun tanpa sadar telah membentuk golongannya sendiri. Maka yang lebih utama adalah bekerja sama dalam hal-hal yang disepakati dan cukuplah kita bertoleransi dalam hal-hal yang tidak disepakati. Dan Bangsa Palestina di Jalur Gaza telah menunjukkan semangat itu kepada dunia.

3 Responses to “Persatuan”

  1. dwinanto Says:

    Nah, masalahnya garis penentu antara mana yang perlu dan yang tidak perlu masih sulit,.

  2. Firman Ahmad Says:

    Tulisan ini dibuat pada akhir agresi Israel ke Gaza.
    Aku sering mendengar/membaca komentar bahwa kita harus bersatu, apalagi saat kita diserang, tetapi atas dasar apa kita bersatu? Apa karena kita sama-sama tertindas? Lalu apa yang terjadi setelah kita terbebas dari penindasan itu? Atau atas dasar Islamkah? Islam yang seperti apa? Masing-masing kelompok menetapkan aturan yang berbeda dalam Islam, memang ada bagian yang sama. Lalu bagaimana yang berbeda itu yang kami melarang sedangkan kalian membolehkan? Apakah kami akan membiarkan kalian melakukan hal itu? Kami tidak bisa bertoleransi dalam semua hal yang tidak disepakati. Jika kami melakukan itu (bertoleransi) berarti kami telah membiarkan sesuatu yang salah/dilarang, dan kami bisa dianggap menerima hal itu. Padahal sebagai muslim kita diperintahkan untuk saling menasihati.

  3. aditya Says:

    @Firman: nampaknya kita harus lebih meneladani etika para ulama terdahulu dalam berbeda pendapat yang mengatakan, “pendapat saya memang benar tapi bisa jadi salah. pendapat dia memang salah tapi bisa jadi benar.”


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: