Steve Jobs: Stay Hungry, Stay Foolish

Juli 15, 2008

Berikut ini adalah pidato yang yang disampaikan oleh Steve Jobs (pendiri Apple dan CEO PIXAR) di hadapan lulusan Stanford University tanggal 12 Juni 2005. Bagi saya, pidato ini sangat menginspirasi. Keren deh! Jadi penasaran, kalau di acara wisuda ITB ada yang seperti ini (commencement speech) nggak ya?

Di bawah ini, teks terjemahannya yang saya copy dari sini :

[start] Saya sangat tersanjung untuk berada bersama kalian dalam perayaan kelulusan kalian dari salah satu universitas terbaik di dunia. Saya tidak pernah lulus dari universitas. Jujur, hari inilah saat terdekat yang pernah saya rasakan terhadap kelulusan dari perkuliahan. Hari ini saya ingin menyampaikan tiga cerita kepada anda semua mengenai kehidupan saya. Hanya tiga buah cerita.

Cerita pertama adalah mengenai menghubungkan titik-titik.

Saya drop-out dari Reed College setelah 6 bulan pertama saya di sana, tapi saya tetap pergi ke kampus selama 18 bulan setelahnya, sebelum saya benar-benar keluar dari sana. Mengapa saya drop-out ?

Hal ini berkaitan dengan pertistiwa sebelum saya lahir. Ibu kandung saya adalah seorang wanita lulusan kuliah yang tidak menikah, dan dia memutuskan untuk menjadikan saya anak adopsi. Beliau merasa bahwa saya harus diadopsi oleh orang lulusan kuliah juga, jadi semuanya telah direncanakan sebelum saya lahir, untuk diadopsi oleh seorang pengacara, begitu saya lahir. Namun, ternyata mereka yang tadinya ingin mengadopsi saya menginginkan anak perempuan, sehingga orang tua angkat saya mendapatkan telepon di tengah malam, “kami baru saja mendapatkan bayi laki-laki yang tak diduga, maukah kalian mengadopsinya?”, orang tua saya mengatakan,”tentu saja”. Sampai pada akhirnya ibu kandung saya mengetahui bahwa orang tua angkat saya bukan lulusan kuliah, bahkan Ayah saya tidak pernah lulus SMA. Ibu kandung saya menolak menandatangani surat pernyataan adopsi, sampai akhirnya ia setuju setelah orangtua angkatku berjanji bahwa aku akan kuliah jika telah tiba waktunya.

Dan 17 tahun kemudian aku memang pergi melanjutkan pendidikan di Perguruan Tinggi. Tapi dengan naïf aku memilih sebuah universitas yang hampir semahal Stanford, dan semua tabungan simpanan orang tuaku dihabiskan untuk biaya kuliahku. Setelah 6 bulan aku tidak melihat nilai yang berharga di sana. Aku tidak tahu harus berbuat apa dalam hidupku dan aku melihat kuliah juga tidak bisa memberikan jawabannya. Jadi aku memutuskan untuk keluar dari kuliah dan percaya dalam hati bahwa semua akan OK-OK saja. Sangatlah menakutkan saat pertama kali mengambil keputusan tersebut, tetapi jika saya melihat ke belakang hari ini, hal itu adalah keputusan terbaik yang pernah saya lakukan. Begitu saya keluar dari kuliah, saya bisa memutuskan untuk tidak mengambil mata kuliah yang tidak menarik perhatian saya, dan hanya mengambil mata kuliah yang bagi saya menarik.

Tidak semuanya berjalan mulus. Saya tidak punya kamar asrama. Saya menumpang di kamar salah seorang teman, tidur di lantainya, dan mengembalikan kaleng coke ke pusat daur ulang untuk mendapatkan 5 sen, uang itu kugunakan untuk membeli makanan. Saya berjalan kaki sejauh 7 mil setiap hari Minggu malam untuk mendapatkan makan malam yang layak di Kuil Hare Krishna. Saya menyenangi semuanya itu. Dan betapa ketertarikan dan intuisi, serta hasrat ingin tahu ku menjadi hal yang tidak ternilai harganya. Ini salah satu contohnya:

Reed College pada saat itu menyediakan kelas kaligrafi terbaik di seluruh negeri. Di seluruh daerah di kampus, setiap label di laci-laci, ditulis tangan dengan kaligrafi yang sangat bagus. Karena aku telah drop-out dan tidak harus mengambil mata kuliah normal, aku malah mengambil mata kuliah kaligrafi untuk belajar mengenai hal tersebut. Aku belajar mengenai tipe huruf serif dan sans-serif, tentang variasi spasi terhadap berbagai kombinasi huruf, tentang hal-hal yang membuat tipografi menjadi sangat indah. Hal itu adalah hal terbaik, terindah, dan ter-artistik dalam suatu tatanan yang tidak bisa dijelaskan oleh sains, dan aku menemukan bahwa hal itu menyenangkan.

Tidak ada satupun sayng saya pelajari itu teraplikasikan secara praktek nyata dalam hidup saya. Tetapi 10 tahun kemudian, ketika saya mendesain komputer Macintosh pertama saya, semuanya kembali lagi kepada saya. Dan kami telah melakukannya, Mac adalah komputer pertama yang mengedepankan tipografi yang indah. Jika saya tidak mengambil kelas kaligrafi itu, Mac tidak akan pernah memiliki beragam huruf dengan tipografi yang indah dan eksotis. Dan karena Windows hanya meng-copy Mac, Tidak ada satupun komputer personal yang memiliki tipografi huruf seindah itu. Jika saya tidak drop-out dari kuliah, saya tidak akan pernah mengambil mata kuliah tipografi, dan tidak akan ada komputer personal dengan tipografi yang indah. Tentu tidak mungkin kita menghubungkan titik-titik kehidupan kita jika kita melihat ke depan, terutama ketika saya di perkuliahan. Akan tetapi, hal ini menjadi sangat jelas, titik-titik kehidupan itu dapat kita hubungkan jika kita melihat ke belakang, ke masa sepuluh tahun yang lalu.

Saya tekankan, kamu tidak bisa menghubungkan titik-titik itu jika melihat ke depan, kamu baru bisa menghubungkannya jika melihat ke belakang, sehingga kamu hanya harus percaya bahwa titik-titik itu akan menghubungkan masa depanmu. Kamu harus percaya pada sesuatu – keberanian, takdir, kehidupan, karma, apapun kamu menyebutnya. Pendekatan ini tidak pernah membuat saya kecewa, dan telah membuat perubahan besar dalam hidup saya.

Cerita kedua saya adalah mengenai cinta dan kehilangan

Saya beruntung – saya menemukan apa yang saya senangi di awal-awal kehidupan saya. Woz dan aku memulai Apple di garasi rumah orang tuaku ketika aku berumur 20. Kami bekerja keras, dan dalam 10 tahun Apple telah berkembang dari kami berdua di garasi menjadi sebuah perusahaan senilai 2 miliar US dollar dengan lebih dari 4000 pekerja. Saat kami baru saja melepas kreasi terbaik kami ke pasaran –Macintosh- setahun lebih awal, dan saya beranjak ke umur 30. Dan saya dipecat. Bagaimana kamu bisa dipecat dari perusahaan yang kamu buat sendiri ? Seiring dengan perkembangan Apple, kami menggunakan seseorang yang saya pikir sangat baik untuk mengelola perusahaan ini bersama saya, dan untuk beberapa tahun hal ini berjalan dengan baik. Tetapi kemudian visi dan misi kami mulai berbeda, dan terjadi kemelut sehingga kami jatuh. Dewan Direksi berpihak kepadanya. Jadi pada umur 30 tahun saya keluar. Benar-benar keluar dari Apple. Apa yang telah menjadi focus tujuan hidup saya hilang, dan hal itu sangat menyakitkan. Saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan beberapa bulan ke depan. Saya merasa bahwa saya telah membuat generasi entrepreneur saya jatuh, seolah-olah tongkat estafet itu jatuh ketika dioper kepada saya. Saya bertemu David Packard dan Bob Noyce dan mencoba meminta maaf karena telah mengacaukan segalanya. Saya benar-benar hancur dan pernah berpikiran untuk pergi dari Sillicon Valley. Tetapi sesuatu mulai menunjukkan titik terang kepada saya- saya masih menyukai apa yang saya perbuat. Titik balik hidup saya di Apple tidak berubah sedikitpun. Saya telah dipecat, tapi saya tetap mencintai bidang itu. Jadi saya memutuskan untuk memulai lagi.

Saya tidak mengerti pada awalnya, namun akhirnya saya mengerti, bahwa dipecat dari Apple adalah hal terbaik yang pernah terjadi pada hidup saya. Hal berat mengenai sosok orang yang sukses diganti lagi dengan keringanan menjadi seorang pemula lagi. Hal ini membebaskan saya untuk memasuki salah satu masa paling kreatif dalam hidup saya.

Dalam 5 tahu kedepannya, saya memulai sebuah usaha baru yang diberi nama NeXT, sebuah perusahaan yang nantinya akan bernama Pixar, dan aku jatuh cinta pada seorang wanita yang luar biasa yang sekarang menjadi istri saya. Pixar menjadi perusahaan pertama yang memroduksi film animasi komputer, berjudul Toy Story, dan Pixar menjadi salah satu perusahaan animasi tersukses di dunia. Lalu singkat kata, Apple membeli NeXT, aku kembali ke Apple, dan teknologi yang dikembangkan di NeXT menjadi inti dari kebangkitan Apple pada masa itu. Dan Laurene (duh, namanya itu loh…,redaksi) dan saya memiliki keluarga yang bahagia.

Saya percaya bahwa hal ini tidak mungkin terjadi jika saya tidak pernah dipecat dari Apple. Masa itu merupakan pil pahit, tapi pasien yang sakit membutuhkannya untuk sembuh. Terkadang kehidupan memukul kepalamu dengan batu bata yang keras. Jangan Kehilangan kepercayaan! Saya yakin bahwa satu-satunya hal yang membuat saya terus maju adalah saya mencintai apa yang saya kerjakan. Kamu harus menemukan apa yang kamu sukai, jika kamu belum menemukannya, teruslah mencari. Jangan menyerah. Hatimu akan menunjukkan hal apa yang membuatmu tertarik ketika kamu menemukannya. Dan seperti halnya sebuah relasi yang kuat, kesukaan itu akan bertambah baik setelah lama kamu menekuninya. Jadi, teruslah mencari apa yang kamu sukai. Jangan menyerah.

Cerita Ketigaku adalah mengenai Kematian

Ketika aku berumur 17 tahun, aku membaca sebuah pepatah yang kira-kira berbunyi seperti demikian: “Jika kamu menganggap setiap hari adalah hari terakhir kamu hidup, maka perilakumu tentu akan berbeda.” Hal ini memberikan pengaruh terhadap hidupku, dan semenjak saat itu, selama 33 tahun, aku selalu melihat cermin dan bertanya kepada diriku sendiri, “Jika ini adalah hari terakhir aku hidup, apakah aku akan melakukan apa yang kukerjakan hari ini?” Jika jawabannya adalah “Tidak” untuk beberapa hari berurutan, aku tahu bahwa aku perlu merubah sesuatu.

Mengingat bahwa aku akan segera mati adalah sebuah alat yang efektif yang dapat aku temukan untuk membuat pilihan yang tepat atas hidupku. Karena hampir semuanya – ekspektasi orang lain, ketenaran, ketakutan akan kegagalan, atau dipermalukan – Hal-hal ini akan runtuh saat kita menghadapi maut, dan meninggalkan sesuatu yang sangat penting. Mengingat bahwa kita akan mati adalah cara paling baik untuk menghindari perangkap bahwa kita akan kehilangan sesuatu. Kamu sudah telanjang. Tidak ada alasan untuk tidak mengikuti tujuan hati.

Sekitar setahun yang lalu aku didiagnosis menderita kanker. Aku di-scan jam 7.30 pagi, dan menunjukkan aku memiliki tumor di pancreas. Aku bahkan tak tahu apa itu pancreas. Dokter memberitahuku bahwa kanker jenis ini dipastikan adalah jenis kanker yang tidak dapat disembuhkan, dan masa hidupku tidak lebih dari 3-6 bulan. Dokterku menyarankan aku pulang ke rumah dan segera mempersiapkan segalanya, yang berarti adalah kode etik dokter untuk mempersiapkan kematian. Hal itu berarti berusaha menjelaskan kepada anak-anakmu apa yang dalam 10 tahun harus kamu beritahukan kepada mereka, namun harus kamu jelaskan dalam waktu beberapa bulan. Hal itu berarti untuk memastikan segalanya telah dipersiapkan dengan baik sehingga kepergianmu dapat diterima keluargamu dengan baik. Hal itu berarti untuk mengucapkan selamat tinggal.

Aku hidup dengan hasil diagnosis setiap hari. Sampai pada suatu sore aku di-biopsi, ketika mereka memasukkan endoskop melalui tenggorokanku, masuk ke lambung lalu sistem pencernaanku, dan mereka mengambil contoh sel pankreasku. Aku pasrah, namun istriku yang juga berada di sana, memberitahuku bahwa ketika para dokter memeriksa sel tersebut di mikroskop, Para dokter menjadi terharu kanrena megetahui bahwa ternyata kanker tersebut sangatlah langka dan ternyata dapat disembuhkan dengan operasi. Aku mengalami operasi dan sekrang baik-baik saja.

Itu adalah peristiwa di mana aku hampir dekat dengan kematian, dan aku berharap itu adalah yang paling menyerempet maut untuk beberapa puluh tahun mendatang. Dengan hasil diagnosis tersebut, sekarang saya dapat mengatakan dengan pasti bahwa kematian adalah konsep yang berguna dan dapat dipakai dengan pendekatan intelektual.

Tidak ada seorangpun yang ingin mati. Bahkan, mereka yang berharap akan masuk surga berharap mereka tidak harus mati untuk mencapai surga. Kematian adalah hal terakhir bagi semua orang. Tidak ada yang pernah luput dari peristiwa kematian. Sebagaimana seharusnya, Kematian adalah hal yang paling menakjubkan selain kehidupan. Kematian adalah agen perubahan kehidupan. Kematian membuat dunia yang lama tergantikan dengan yang baru. Sekarang anda adalah agen yang baru, tapi tak lama lagi, anda akan menjadi tua dan digantikan dengan yang baru lagi. Aku tak berusaha mendramatisir, namun inilah kenyataannya.

Waktumu terbatas, JADI JANGAN MENGHABISKAN WAKTUMU UNTUK MEWUJUDKAN IMPIAN ORANG LAIN. Jangan terjebak akan dogma-dogma yang ada – yaitu HIDUP DENGAN HASIL PEMIKIRAN ORANG LAIN. Jangan membuat pikiran dan anggapan orang lain malah mengaburkan suara hatimu. Dan yang paling penting, Milikilah selalu keinginan untuk mengikuti hati dan intuisimu. Hati dan intuisimu, dengan cara yang tak terduga sudah mengetahui apa yang sebenarnya kamu inginkan. Hal lainnya adalah hal sekunder.

Ketika aku masih muda, ada sebuah literatur yang sangat menakjubkan bernama The Whole Earth Catalog, yang merupakan salah satu buku terbaik selama generasiku. Dikarang oleh seseorang yang bernama Stewart Brand di suatu tempat tak jauh dari sini, yang bernama Menlo Park, dan ia memberikan sentuhan puitis terhadap dunia ini. Masa-masa ini adalah di akhir 1960-an, tepat sebelum personal computer tercipta, dan segalanya masih dibuat dengan Mesin Ketik, gunting, dan kamera Polaroid. Ini seperti Google dalam bentuk kertas, 35 tahun sebelum Google tercipta: idealistis, dan tercipta dengan hal yang luar biasa.

Stewart bersama tim-nya menulis beberapa isu penting pada buku The Whole Earth Catalog, dan kemudian ketika saat mereka mulai habis, mereka menulis berita terakhir. Itu terjadi sekitar pertengahan tahun 1970, ketika aku seumur kamu. Di balik literatur terakhir mereka, ada sebuah foto mengenai jalanan di sebuah pedesaan di pagi hari, yang akan membangkitkan semangatmu untuk mendakinya jika kamu berjiwa petualang. Di bawahnya tertulis: “Stay Hungry, Stay Foolish”. Itu adalah uacapan perpisahan mereka sebelum mereka pension. Stay Hungry, Stay Foolish. Dan aku berharap aku dapat selalu menerapkan hal itu dalam hidup saya. Dan sekarang, pesan saya kepada para lulusan baru… aku berharap…

Stay Hungry, Stay Foolish

Terima kasih…[end]

11 Responses to “Steve Jobs: Stay Hungry, Stay Foolish”

  1. ghifar Says:

    Ga disangka… orang sesukses Steve Job ternyata inget kematian. Bahkan dengan mengingat hal tersebut membuat dia jadi orang besar. luar biasa…

  2. KnightDNA Says:

    JADI JANGAN MENGHABISKAN WAKTUMU UNTUK MEWUJUDKAN IMPIAN ORANG LAIN. Jangan terjebak akan dogma-dogma yang ada – yaitu HIDUP DENGAN HASIL PEMIKIRAN ORANG LAIN

    Suer, ini bagian klimaks dari semua pidatonya tadi… gue ngerasa bagian ini yang paling “ngena”… Nice post… And also nice public figure to be exposed😉

    Dan gue adalah penggemar produk2nya Apple😛

    -KnightDNA-

  3. Poetri Says:

    Sebenarnya tadi saya iseng-iseng googling tentang novel sherlock holmes, samapi akhirnya nyasar di sini.Maaf ya🙂. Saya boleh meng-copypaste tulisan ini tidak?isi tulisannya sangat bagus semoga juga bisa memberi manfaat buat teman-teman saya di kampus…

  4. Aditya Says:

    @Poetri: wah, silakan,silakan.. saya juga ngopy dari http://davsam.wordpress.com/2008/07/07/stevjobs-stay-foolish-stay-hungry/

    semoga bermanfaat🙂

  5. dP Says:

    wuih… kebetulan bgt nih…
    barusan saya baca2 forum gamedevid.org, trus pas di bagian quote2 menarik ada quote ini, sama persis dengan blog kmu Dit.
    cuma numpang komentar aja, setuju banget steve jobb orang hebat. :p
    btw, ada terjemahan yang sedikit kurang pas, bagian nanya ke cermin, ini yang saya dapet dari http://news-service.stanford.edu/news/2005/june15/jobs-061505.html
    “If today were the last day of my life, would I want to do what I am about to do today?”
    jika hari ini adalah hari terakhir dalam hidup saya, apakah saya akan tetap melakukan apa yang akan saya lakukan hari ini?
    *belum sanggup nanya gitu ke cermin tiap hari, takut kalo jawabannya banyak “tidak”😦

  6. Aditya Says:

    @dP: bener Dep,, makasih dah dikasih tau. Sekarang udah diralat. Btw, lu jeli juga ya🙂 …

    wah, berani atuh, klo jawabannya “tidak” jg gak akan ngegigit kok😀

  7. error2succes Says:

    sangat inspiratif, salam kenal

    http://error2succes.wordpress.com


  8. […] gw baca artikel ini, dan isinya bikin gw mikir lagi. “Selama ini, gw dah menjalankan yg bener ga sih buat masa […]

  9. hastomi Says:

    Orang sukses kebanyakan nggak lulus kuliah tuh…

  10. hastomi Says:

    betul gak?

  11. Aditya Says:

    @hastomi: hmm.. kayaknya sebagian kecil orang sukses gak lulus kuliah.

    Kalo dibalik gimana? orang yg gak lulus kuliah kebanyakan sukses..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: