Berpikir Besar

Juni 11, 2008

Baik, saya akan memulai topik ini dengan sebuah cerita. Seorang guru sedang mengajarkan sesuatu kepada murid-muridnya. Dia mengambil sebuah wadah lalu dimasukkannya batu hingga wadah tersebut tidak dapat lagi menampung lebih banyak batu. Sang guru bertanya apakah wadah ini sudah penuh?

Kira-kira apa jawaban murid-muridnya? Mereka katakan bahwa wadah ini sudah penuh. Kemudian sang guru mengambil pasir dan menuangkannya ke dalam wadah hingga tidak dapat menampung lebih banyak pasir. Sang guru bertanya lagi apakah wadah ini sudah penuh?

Sekarang, menurut Anda apa jawaban murid-muridnya? Sudah penuhkan? Sang guru kemudian menuangkan air hingga tidak bisa menampung lebih banyak air.

Apa hikmahnya? Hikmahnya adalah ketika pikiran kita disibukkan dengan hal-hal besar, maka yang kecil-kecil akan mengikuti. Tapi tidak sebaliknya. Jika pasir dituangkan lebih dulu, maka tidak ada lagi tempat untuk batu. Begitulah cara kerja pikiran kita.

Seorang ulama dakwah pernah mengatakan jika kita tidak disibukkan dengan pekerjaan-pekerjaan besar, maka kita akan disibukkan dengan yang kecil.

Berpikir besar adalah berpikir lintas ruang dan waktu. Kita berpikir lebih luas dan lebih jauh dari kebanyakan orang. Pikiran besarlah yang dapat mengubah dunia. Negeri Mesir masih berada dalam cengkeraman penjajah Inggris ketika gerakan Ikhwanul Muslimin didirikan Hasan Al-Banna. Tetapi tahapan ketujuh dari rangkaian tahapan amalnya sudah menyebutkan “soko guru peradaban” sebagai tujuannya.

Pikiran besar pula yang mengantarkan Indonesia ke gerbang kemerdekaannya. Indonesia baru saja lepas dari penjaja Belanda, tapi dalam pembukaan UUD-nya, mereka sudah memikirkan seluruh dunia dengan potongan kalimat “..penjajahan di atas dunia harus dihapuskan..”.

Negeri Madinah masih dalam ketidakberdayannya menghadapi pasukan sekutu terbesar di Jazirah Arab sehingga membuat mereka harus bertahan dengan membuat parit di sekeliling Madinah. Tapi apa yang dikatakan Rasullah? Persia dan Romawi, dua negara adidaya saat itu, akan kita taklukkan.

Islam mengajarkan kita untuk berpikir melewati batas ruang dan waktu. Kita diajarkan untuk memiliki visi besar yang bernama surga. Kita diberi amanah kekhalifahan di muka bumi. Bukankah itu besar?

Tetapi berpikir besar ini juga memiliki jebakan. Jebakan tersebut bernama “panjang angan-angan”. Yaitu ketika pikiran-pikiran besar tersebut tidak disertai dengan kerja-kerja besar.

Makanya seorang tokoh pergerakan Islam pernah mengatakan, “jadilah kamu lelaki dengan cita-cita menggantung di langit nan tinggi, namun dengan kaki tetap berpijak d bumi”. Seorang tokoh Barat pun pernah mengatakan, “perbedaan mimpi dan halusinasi adalah aksi”.

Maka Rasulullah SAW dan para sahabatnya yang tetap berpeluh keringat menggali parit bersama visi besar tentang penaklukan Romawi dan Persia.

3 Responses to “Berpikir Besar”

  1. lookcelas Says:

    salam….bagus banget
    articlenya….lagi dounk, salam

  2. fidya Says:

    sipp…!

  3. RUD Says:

    YA..ALlah telah menyuruh degn tegas supaya kita berpikir besar(visioner) lihat Qs.3(an-nissa):133-134(di sediakan surga tuk org2 yg beriman),Qs.16(an-nhal):96(Allah sediakan surga bg yg beriman)jadi kita org islam khususny selalu baerpikir majulah sebab itu merupakan salah satu perintah Allah dg turunnya dinnulislam(afalla tak killun, afalla tatafakarrun)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: