Kasihan bangsa yang memakai pakaian yang tidak ditenunnya,
memakan roti dari gandum yang tidak dituainya
dan meminum anggur yang tidak diperasnya

Kasihan bangsa yang menjadikan orang bodoh menjadi pahlawan,
dan menganggap penindasan penjajah sebagai hadiah.

Kasihan bangsa yang meremehkan nafsu dalam mimpi-mimpinya ketika tidur,
sementara menyerah padanya ketika bangun.

Kasihan bangsa yang tidak pernah angkat suara
kecuali jika sedang berjalan di atas kuburan,
tidak sesumbar kecuali di runtuhan,
dan tidak memberontak kecuali ketika lehernya
sudah berada di antara pedang dan landasan.

Kasihan bangsa yang negarawannya serigala,
falsafahnya karung nasi,
dan senimannya tukang tambal dan tukang tiru.

Kasihan bangsa yang menyambut penguasa barunya
dengan trompet kehormatan namun melepasnya dengan cacian,
hanya untuk menyambut penguasa baru lain dengan trompet lagi.

Kasihan bangsa yang orang sucinya dungu
menghitung tahun-tahun berlalu
dan orang kuatnya masih dalam gendongan.

Kasihan bangsa yang berpecah-belah,
dan masing-masing mengangap dirinya sebagai satu bangsa.

~ Khalil Gibran

Bogor, Rabu 27 Juli 2007. 08:04

 

          Sekitar satu tahun yang lalu, dalam acara daurah khadam Gamais 06/07, akh Imanullah (kepala Gamais 03/04) pernah becerita begini. Ketika itu pak Hermawan K. Dipojono baru pulang dari studi S3-nya di Amerika. Beliau pernah berkata dalam salah satu ceramahnya di Mesjid Salman, bahwa ketika beliau masih kuliah, keadaan mesjid Salman sepi walaupun sudah masuk waktu shalat. Ketika adzan berkumandang, masih banyak mahasiswa yang duduk-duduk di boulevard. Korelasinya adalah, seperti yang bisa dilihat, seperti inilah keadaan Indonesia sekarang. Saat giliran kepemimpinan negeri ini berada di tangan mereka. Tapi sekarang, jika sudah masuk waktu shalat, mesjid Salman selalu ramai. Berarti cukup beralasan kalau kita berharap Indonesia akan jauh lebih baik kedepannya.

          Kawan, sadar atau tidak, kitalah yang menentukan wajah negeri ini di masa depan. Bagaimana kualitas pribadi-pribadi kita, begitulah kualitas negeri kita 20-30 tahun lagi. Karena kita, suka atau tidak suka, adalah kaum elit negeri ini yang disebut mahasiswa.

Senin, 25 Juni 2007. 21:23 WIB

 

          Beberapa pekan yang lalu aku menyaksikan berita di TV. Isi beritanya adalah perayaan kelulusan anak-anak SMA dengan mencorat-coret (bekas) baju seragam mereka serta bergerombol dan berteriak-teriak di jalanan. Setidaknya itu yang aku lihat di layar TV. Pernah juga aku lihat anak-anak sekolah merayakan kelulusannya dengan beriring-iringan motor sambil berteriak-teriak sepanjang jalan. Beberapa hari yang lalu aku juga melihat di TV anak-anak SMP yang baru lulus melakukan hal sama yang sama.

          Yang seperti ini nampaknya sudah langganan terjadi setiap tahun. Yang aku pikirkan, apa yang ada di dalam hati mereka? Kalau mereka berhasil lulus dengan nilai baik, sepertinya yang seperti itu tidak cocok dikatakan bersyukur. Kalau nilai mereka jelek, tidak cocok juga kalau dikatakan mereka sedang bertaubat menyesali kelalaian mereka. Jadi, apa yang ada di hati mereka sebenarnya?

Membaca Sistematis

Juli 3, 2007

Bogor, Senin 25 Juli 2007. 22:03

Sekitar satu setengah pekan yang lalu aku bersama beberapa teman di Gamais diamanahkan untuk merevisi buku Risalah Manajemen Dakwah Kampus yang disusun oleh tim SPMN (Standardisasi Pelatihan Manajemen Nasional) FSLDK Nasional. Dulu, yang menyusun buku ini adalah tim SPMN yang terdiri dari UI dan ITB. Sekarang, hanya ITB saja. Rencananya, buku tersebut akan dipasarkan di Lampung saat FS-Nasional.

Aku kebagian bab “Kaderisasi dan Manajemen SDM”. Rasanya canggung juga harus merevisi buku itu karena kupikir pemahamanku tentang hal ini masih belum terstruktur dengan baik. Akhirnya, kukumpulkanlah semua buku yang kutahu membahas tentang topik tersebut atau paling tidak berhubungan. Sampai CD seminar “Marketing Revolution”-nya Tung Desem Waringin pun jadi bahan.

Aku memfokuskan diri membaca dan memikirkan topik tersebut selama terus-menerus, selama beberapa hari. Jarang sekali aku keluar rumah di waktu-waktu tersebut, kecuali makan dan ke mesjid. Kerjanya hanya duduk, membaca, befikir, membuat catatan, sambil sesekali refreshing kalau suntuk. Dan, hasilnya terasa! Metode intens seperti ini dapat membuat pemahaman kita menyeluruh dan pengetahuan kita menjadi terstruktur.

Aku mendapat inspirasi dari Ust. Anis Matta, aku pernah membacanya di salah satu bukunya. Lain kali, akan kugunakan metode ini. Menentukan satu topik tertentu, lalu menyediakan waktu khusus dan secara intens-sistematis membaca dari beragam sumber.