Film Fantastic 4 : “Kuliah” Kepahlawanan untuk Mahasiswa

Juli 13, 2007

Sekitar 1,5 jam-an aku luangkan waktu untuk menonton film Fantastic 4 : Rise of The Silver Surfer. Visual effect-nya keren sekali, mantap dah! Btw aku masih gak ngerti kenapa si Victor bisa hidup lagi? Maklum gak ada subtitle-nya, hehe…

Ketika selesai, aku berpikir kembali apa yang benar-benar bisa diambil dari film yang baru saja kutonton tadi. Secara umum, moral ceritanya sama dengan film Spiderman 1-2:

1. Bersama kekuatan yang besar, muncul tanggung jawab yang besar

2. Karena tanggung jawab yang lebih besar dibanding kebanyakan orang, ini menuntut adanya perbedaan “level pengorbanan” seseorang dibandingkan dengan kebanyakan orang. Inilah yang disebut kepahlawanan.

Dalam film ini, poin kedua di atas digambarkan dengan cukup sederhana. Misalnya ketika sedang melangsungkan prosesi pernikahan, datang panggilan tugas menyelamatkan dunia. Akhirnya mereka berempat, termasuk kedua pengantinnya, segera pergi ke lokasi.

Sebenarnya ini merupakan bentuk militansi, namun digambarkan dengan sangat, bahkan terlalu sederhana sehingga terkesan sangat mudah. Padahal kenyataannya sulit. Misalnya kalau sedang pulang kampung, enak di sana, kumpul dengan orang tua, keluarga. Tiba-tiba, tanpa diduga ada panggilan darurat harus segera ke kampus, “Anda dibutuhkan sekarang, kita kurang orang!”. Berat sekali rasanya harus keluar dari zona nyaman tersebut.

Ternyata kehidupan seorang pahlawan tidaklah “normal” atau “nyaman”.

Sekarang, mari kita “bumikan” moral film science-fiction ini. Sadar atau tidak, menurutku, kita (kita?) sebenarnya sudah memiliki poin pertama di atas. Alasannya, pertama, karena kita pemuda. Masa muda merupakan masa dari kehidupan manusia dimana seluruh potensinya berada pada kondisi puncak. Inilah sebabnya, sejarah mencatat kepeloporan perjuangan selalu menjadi milik pemuda. Pada hakikatnya, usia muda kita pun merupakan anugerah sekaligus amanah dari Allah. Setelah mati, kita akan ditanya, dihabiskan untuk apa masa muda kita?

Jadi, jika ingin berkorban waktu dengan pengorbanan terbaik, berikanlah usia muda kita. Bahasanya Pak Anis Matta, “Usia muda kami habis ditelan masa sulit.” Tentunya dengan mengharap balasan yang lebih baik dari Allah SWT.

Alasan kedua, karena dari sekian banyak pemuda di negeri ini, kita merupakan golongan minoritas (untuk menghindari kata ‘elit’) yang Allah beri kesempatan menjadi mahasiswa.

Alasan ketiga, karena dari sekian sedikit mahasiswa di negeri ini, kita merupakan golongan yang super sedikit dapat mendapatkan fasilitas menuntut ilmu di Institut Terbaik Bangsa.

Ah, jadi ingat lagu “Rumahku”, eh salah, “Kampusku”…

Berjuta rakyat menanti tanganmu, mereka lapar dan bau keringat

One Response to “Film Fantastic 4 : “Kuliah” Kepahlawanan untuk Mahasiswa”


  1. Aktivis jaman sekarang emang gaya yak..

    Memang harus pandai mengambil hikmah dari mana-mana..

    Tapi jangan ampe lupa sumber segala pengetahuan dan hikmah..

    Al-Qur’an dan As-Sunnah..

    Coba kaji As-Sunnah juga, kalo Al-Qur’an kan sudah lumayan sering dibaca (tul g?).

    Btw, bagus, selamat berdakwah melalui tuts keyboard akhi.. Dunia maya menjadi salah satu cara berdakwah juga..🙂


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: