Bandung, Selasa 24 Juli 2007. 21:51

Aku kembali bertolak ke Bandung pada Selasa pagi, tepatnya pukul 9. Mobil travel datang menjamput tepat waktu. Karena mobilnya Toyota Vios, satu mobil hanya berisi 3 penumpang. Aku penumpang terakhir yang dijemput.

Ternyata, 2 orang penumpang lainnya adalah orang bule, tepatnya orang Perancis. Mereka suami-istri. Mereka sedang dalam perjalanan wisata di Asia, menikmati masa pensiunnya. Sebelumnya, mereka sudah ke Thailand, Malaysia, Singapura. Rencananya, mereka akan keliling Bandung selama 3 hari, lalu ke Yogyakarta, Solo, dan Bali.

Kami berempat (bersama supir) bercakap-cakap dalam bahasa Inggris. Karena tidak satupun di antara kami yang benar-benar lancar, agak sulit juga jadinya. Tetapi, dengan begitu aku jadi pede aja ngomong salah-salah dikit, toh sama-sama belajar ^_^

Aku tanya, mereka tinggal di mana di sini? Mereka jawab bahwa mereka berasal dari Marseille. Entah aku yang salah ngomong atau mereka yang salah ngerti…

Aku juga tanya, “Do you in vacation here?” (setelah kupikir-pikir, harusnya kan “Are you…”). Mereka jawab, “No, we’re in holiday…”

Aku pun harus sampai menggambarkan binatang domba saat menjelaskan pada mereka tentang “adu domba”. Karena di samping aku sulit menjelaskan, mereka pun sulit memahami apa yang aku katakan.

Perjalanan kami sangat santai, karena mereka ingin mengambil foto pemandangan di perjalanan, terutama daerah puncak dan padalarang. Kami juga sempat berhenti dan minum kopi (ditraktir pula). Aku pun membeli koran Kompas di sana. Dia lalu menanyakan, “What happen in the world?”

Pertanyaan yang aneh. Namun kemudian dia menjelaskan bahwa mereka memulai perjalanan sejak 12 Juli. Sejak saat itu, mereka tidak mengikuti perkembangan berita lagi. Bahkan, mereka pun tidak tahu bahwa Zidane, yang berkebangsaan Perancis, datang ke Indonesia beberapa waktu yang lalu dan menemui presiden SBY. Mereka sempat berkomentar tentang Zidane, “He’s a good man.”

Dua hal paling berkesan selama perjalanan adalah, pertama, mereka orang yang ramah dan terbuka, walaupun baru ketemu. Kedua, ternyata suasana Puncak kalau tidak macet dan dinikmati dengan seksama, bagus sekali!

Apa Bahan Dasar Kita?

Juli 20, 2007

Ketika akan membuat patung David, Michelangelo melewatkan waktu yang lama sekali untuk menentukan marmer sebagai bahan dasar patung tersebut. Michelangelo tahu bahwa dia dapat mengubah bentuk batu, tetapi tidak dapat mengubah kualitas bahan dasarnya.

Sama dengan diri kita, mengetahui siapa diri kita sama pentingnya dengan mengetahui ingin jadi seperti apa kita. Inilah konsep pengembangan diri yang baik. Dengan begitu kita akan lebih dapat menerima kelemahan-kelemahan yang menjadi sifat dasar kita untuk diperbaiki dan kita tak akan terlalu merasa bersalah atau tertekan karenanya.

Begitu pula sebaliknya, kita akan tahu apa saja potensi kekuatan diri kita untuk kita optimasi pemanfaatannya dalam kehidupan.

Nabi SAW bersabda bahwa Allah SWT merahmati orang yang mengenal dirinya.

Sejarah

Juli 19, 2007

Sejarah merupakan aset suatu bangsa yang sangat penting. Dalam Alquran, bab sejarah menempati porsi yang besar. Hasan Al-Banna ketika hendak berda’wah ke suatu kota, mesti mencari informasi tenang sejarah daerah setempat dari perpustakaan lokal. Presiden Soekarno pernah mengatakan, “jangan sekali-kali melupakan sejarah”.

Sejarah bukan pula sekedar masa lalu yang tidak ada pengaruhnya bagi masa depan. Israel hingga kini menjajah Palestina atas dasar klaim sejarah. Timor Timur sulit dipertahankan karena alasan latar belakang sejarah.

Sejarah kejayaan dan perjuangan suatu bangsa dapat membangkitkan semangat juang dan mengokohkan idealisme anak bangsanya. Seperti Salahudin Al-Ayubi yang membangkitkan semangat kaum muslimin pada perang salib dengan mengingatkan kembali pada sejarah nabi mereka. Juga Fasisme Italia yang dilatarbelakangi keinginan mengembalikan sejarah imperium Roma.

Inilah sebabnya sejarah rawan dipelintir atau ditutup-tutupi oleh musuh suatu bangsa dan penguasanya yang zalim, sehingga tidak lagi memiliki ruh.

USB TV Tuner

Juli 19, 2007

Alhamdulillah, sekarang aku punya USB TV Tuner. Jadi bisa nonton TV di laptop, setelah sekian bulan di kosan gak ada TV.

Walaupun eksternal, Keuntungan TV Tuner ini sama seperti TV Tuner internal, yaitu bisa “berbagi layar” antara TV dan komputer.

Sambil nonton Piala Asia Indonesia Vs Korsel, bisa tulas-tulis di notepad. Lumayan buat ngisi blog.

Sekitar 1,5 jam-an aku luangkan waktu untuk menonton film Fantastic 4 : Rise of The Silver Surfer. Visual effect-nya keren sekali, mantap dah! Btw aku masih gak ngerti kenapa si Victor bisa hidup lagi? Maklum gak ada subtitle-nya, hehe…

Ketika selesai, aku berpikir kembali apa yang benar-benar bisa diambil dari film yang baru saja kutonton tadi. Secara umum, moral ceritanya sama dengan film Spiderman 1-2:

1. Bersama kekuatan yang besar, muncul tanggung jawab yang besar

2. Karena tanggung jawab yang lebih besar dibanding kebanyakan orang, ini menuntut adanya perbedaan “level pengorbanan” seseorang dibandingkan dengan kebanyakan orang. Inilah yang disebut kepahlawanan.

Dalam film ini, poin kedua di atas digambarkan dengan cukup sederhana. Misalnya ketika sedang melangsungkan prosesi pernikahan, datang panggilan tugas menyelamatkan dunia. Akhirnya mereka berempat, termasuk kedua pengantinnya, segera pergi ke lokasi.

Sebenarnya ini merupakan bentuk militansi, namun digambarkan dengan sangat, bahkan terlalu sederhana sehingga terkesan sangat mudah. Padahal kenyataannya sulit. Misalnya kalau sedang pulang kampung, enak di sana, kumpul dengan orang tua, keluarga. Tiba-tiba, tanpa diduga ada panggilan darurat harus segera ke kampus, “Anda dibutuhkan sekarang, kita kurang orang!”. Berat sekali rasanya harus keluar dari zona nyaman tersebut.

Ternyata kehidupan seorang pahlawan tidaklah “normal” atau “nyaman”.

Sekarang, mari kita “bumikan” moral film science-fiction ini. Sadar atau tidak, menurutku, kita (kita?) sebenarnya sudah memiliki poin pertama di atas. Alasannya, pertama, karena kita pemuda. Masa muda merupakan masa dari kehidupan manusia dimana seluruh potensinya berada pada kondisi puncak. Inilah sebabnya, sejarah mencatat kepeloporan perjuangan selalu menjadi milik pemuda. Pada hakikatnya, usia muda kita pun merupakan anugerah sekaligus amanah dari Allah. Setelah mati, kita akan ditanya, dihabiskan untuk apa masa muda kita?

Jadi, jika ingin berkorban waktu dengan pengorbanan terbaik, berikanlah usia muda kita. Bahasanya Pak Anis Matta, “Usia muda kami habis ditelan masa sulit.” Tentunya dengan mengharap balasan yang lebih baik dari Allah SWT.

Alasan kedua, karena dari sekian banyak pemuda di negeri ini, kita merupakan golongan minoritas (untuk menghindari kata ‘elit’) yang Allah beri kesempatan menjadi mahasiswa.

Alasan ketiga, karena dari sekian sedikit mahasiswa di negeri ini, kita merupakan golongan yang super sedikit dapat mendapatkan fasilitas menuntut ilmu di Institut Terbaik Bangsa.

Ah, jadi ingat lagu “Rumahku”, eh salah, “Kampusku”…

Berjuta rakyat menanti tanganmu, mereka lapar dan bau keringat

Bogor, Ahad 8 Juli 2007. 13:18

Kemarin, aku pergi dari Bandung ke Bogor naik motor. Akhirnya bisa kurasakan. Soalnya selama ini pasti dilarang orang tua, karena khawatir, tentunya. Alhamdulillah, berarti masih sayang.

Untuk kasus kemarin, aku sengaja gak bilang (karena pasti gak akan boleh, berdasarkan pengalaman yang sudah-sudah) dan untungnya gak ditanya “Ntar ke Bogor pake apa?” Dalam hal ini, semua hal boleh kecuali ada larangan, kan? hehe

Berangkat jam 14, alhamdulillah finish dengan selamat di rumah jam 19. Berarti sekitar 5 jam-an. Di puncak macet berat soalnya, kalo gak macet mungkin bisa 4 jam-an. Kalo speed-nya ditingkatin (jadi rata-rata 70 km-an/jam) mungkin bisa 3 jam-an nyampe. Btw, kalo naek mobil, mungkin jam 22-an kali nyampenya (mungkin), gara-gara macet kemaren.

Sampe rumah, orang tua pastinya kaget. And the story goes… Dan, nampaknya (baru nampaknya, belum keputusan), motor gak bisa balik ke Bandung lagi, nih…

Tapi terlepas dari itu semua, kemaren di jalan (di puncak/cipanas) ada bus yang kecelakaan (rem-nya blong dan masuk sungai, kalo gak salah). Jadi tersadar kembali bahwa, manusia tugasnya hanya ikhtiar sebaik-baiknya, hasilnya Allah yang tentukan. Begitu juga hidup kita, kita bisa merencanakan hidup 100 tahun ke depan, tapi Allah bisa sewaktu-waktu mengambil kehidupan kita tanpa diduga-duga. Bisa jadi besok pagi, atau sedetik lagi kita sudah tiada.

Mari kita gunakan setiap momen hidup kita dengan sebaik-baiknya agar ketika nyawa kita dicabut, kita dalam keadaan yang baik (khusnul khatimah). Amin…

Ada dan Tiada

Juli 3, 2007

Bandung, Senin 2 Juli 2007. 17:14

 

Tidak ada yang netral di dunia ini, yang ada adalah berusaha berbuat seadil-adilnya dan memihak pada yang benar atau yang lebih benar.

 

Tidak ada orang suci di dunia sekarang ini, yang ada adalah orang yang senantiasa berkomitmen untuk menyucikan diri.