Pernikahan Nabi Muhammad SAW dengan Aisyah RA dan Dakwah Pasca Nikah
September 15, 2008
(Lagi-lagi) Tulisan ini dibuat dalam menyelesaikan salah satu tugas ^_^.
#1 – Kematangan yang Memesona
Khadijah dan Aisyah, Kedua perempuan terhormat itu bergantian mengisi kehidupan Rasulullah pada dua fase kenabian yang berbeda. Tapi cinta Rasulullah pada keduanya berbeda. Jika Rasulullah SAW ditanya siapa istri yang paling dicintainya, Rasul menjawab, ”Aisyah”. Tapi ketika ditanya tentang cintanya pada Khadijah, beliau menjawab, “cinta itu Allah karuniakan kepadaku”. Cinta Rasulullah pada keduanya berbeda, tapi keduanya lahir dari satu yang sama: pesona kematangan.
Pesona Khadijah adalah pesona kematangan jiwa. Pesona ini melahirkan cinta sejati yang Allah kirimkan kepada jiwa Nabi hingga beliau berkata, “siapa lagi yang dapat menggantikan Khadijah?”, sepeniggal istrinya wafat. Cinta ini pula yang masih menyertai nama Khadijah tatkala nama tersebut disebut-sebut setelah Khadijah tiada, sehingga Aisyah cemburu padanya.
Sedangkan Aisyah adalah gabungan dari pesona kecantikan, kecerdasan, dan kematangan dini. Inilah gabungan pesona-pesona yang kemudian melahirkan syahwat. Sebagaimana Ummu Salamah berkata, “Rasul tidak dapat menahan diri jika bertemu dengan Aisyah.”
Itulah pesona kematangan. Pernikahan dan rumah tangga yang memesona merupakan perpaduan dari dua atau lebih kepribadian yang juga memesona. Dan pesona itu sejati, bukan dari katampanan, kecantikan, atau kekayaan semata, tetapi dari kematangan kepribadian. Kepribadian yang matang itu kuat tapi meneduhkan. Di sinilah seseorang dapat mengatakan, “rumahku surgaku”. Ketika sedang berada di dalamnya, ia menjadi sumber energi untuk berkarya di luar. Ketika berada di luarnya, selalu ada kerinduan untuk kembali.
#2 – Cinta yang Menumbuhkan
Aisyah bukan hanya seorang istri Rasul, tapi juga merupakan bintang di langit sejarah. Salah satu credit point terbesarnya adalah banyaknya jumlah hadits yang beliau hafal dari Rasulullah dan kepahamannya tentang fiqih sehingga menjadi rujukan utama bagi sahabat Rasul yang lain. Itu hanya salah satunya disamping luasnya lautan kepribadian beliau sebagai Ummul Mukminin yang menjadi rujukan kepribadian muslimah.
Aisyah merupakan buah karya sang suami: Nabi Muhammad SAW. Inilah tantangan para suami yang mencintai istrinya dengan sejati, menumbuhkan istri yang dicintainya sehingga menjadi lebih baik secara berkesinambungan.
Pekerjaan menumbuhkan ini sulit karena menuntut pemahaman yang baik tentang kebutuhan orang yang akan dikembangkan. Dan seringkali orang tersebut tidak menyadari apa yang dia butuhkan. Seorang istri, misalnya menginginkan lebih banyak perhiasan, belum tentu apa dia minta adalah apa yang sebenarnya dia butuhkan. Usaha menumbuhkan tanpa memahami biasanya hanya akan melahirkan pemaksaan kehendak. Tentunya bukan ini cara yang bijaksana. Cara yang bijak adalah dengan menginspirasi.
Suatu ketika, tuntutan istri-istrinya adalah untuk mendapatkan lebih banyak perhiasan dunia. Tapi mungkin kebutuhan akan pemaknaan lebih dalam terhadap misi besar kerasulan (dimana mereka merupakan bagian dari “tim” kehidupan Rasul) lebih mereka butuhkan. Maka dengarlah jawabannya: “Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu: “Jika kamu sekalian mengingini kehidupan dunia dan perhiasannya, maka marilah supaya kuberikan kepadamu mut’ah dan aku ceraikan kamu dengan cara yang baik. Dan jika kamu sekalian menghendaki (keredhaan) Allah dan Rasulnya-Nya serta (kesenangan) di negeri akhirat, maka sesungguhnya Allah menyediakan bagi siapa yang berbuat baik diantaramu pahala yang besar.” (QS Al-Ahzab 28-29)
Dalam perspektif yang lain, hanya dengan cara menumbuhkan secara berkesinambunganlah hubungan percintaan itu bisa bertahan. Akan sulit mempertahankan hubungan tersebut jika orang-orang di dalamnya stagnan. Tidak berkembang dari hari ke hari. Karena jiwa ini bisa bosan.
#3 – Romantika yang Merawat Jiwa
Banyak kisah-kisah romantis yang menghiasi kehidupan Nabi Muhammad dan istrinya, Aisyah. Rasul pernah berlomba lari dengan Aisyah. Rasul pernah bermanja diri kepada Aisyah. Rasul memanggil Aisyah dengan panggilan kesayangan ‘Humaira’. Rasul pernah disisirkan rambutnya, dan masih banyak lagi kisah serupa tentang romantika suami-istri.
Kenapa kisah-kisah itu ada? Karena jiwa butuh perawatan, dan begitulah caranya ia dirawat. Kemesraan, senyuman yang tulus, pujian, hadiah, ucapan selamat, perhatian, semuanya merupakan alat untuk merawat jiwa. Itulah yang akan menjadi pelumas bagi mesin rumah tangga sehingga dapat tetap kuat menempuh perjalanannya yang lebih jauh, menyelesaikan misi besarnya, misi peradaban.
#4 – Misi yang Lebih Besar
Istri-istri nabi masuk ke dalam kehidupan Rasul untuk mengisi suatu peran yang harus dijalankannya. Mereka menjadi bagian dari ‘tim’ yang menjalankan misi kerasulan. Nampaknya pengisi peran-peran utama tersebut adalah Khadijah dan Aisyah. Khadijah hadir selama 25 tahun mendukung Rasulullah dalam membangun basis sosial Islam di Mekkah yang berat. Lalu Aisyah yang selama 10 tahun mendampingi dalam misi pembangunan konstitusi Negara Madinah yang rumit. Dan istri-istri beliau yang lainnya ikut mengisi peran-peran lainnya di sekitar kedua poros itu.
Keluarga Rasul merupakan keluarga dengan misi yang berat dan besar: misi kerasulan. Karena tim tersebut ditugaskan menangani masalah besar, maka masalah-masalah kecil seharusnya tidak boleh mengganggu kinerja mereka. Karena kaidahnya sederhana: siapa yang tidak disibukkan dengan perkara besar, maka akan disibukkan dengan perkara kecil, begitu sebaliknya. Banyak kisah dalam rumah tangga Rasul yang menjelaskan hal ini.
Pernah suatu ketika istri-istri beliau menuntut tambahan perhiasan dunia. Ini bukan sesuatu yang salah. Tetapi kemudian Rasulullah mendiamkan mereka selama satu bulan. Karena tim ini harus sudah berada “di atas” masalah kecil seperti itu. Masalah seperti itu sudah “tidak level” untuk diributkan.
Cerita yang lain adalah ketika Rasul sedang berada di tempat Aisyah. Di sana juga sedang ada Saudah, istri Rasul yang lain. Aisyah memberika kue yang dibuatnya kepada Saudah. Tetapi Saudah mengatakan bahwa kue tersebut tidak enak. Aisyah kesal lalu menimpuk Saudah dengan kue tersebut, lalu Saudah membalasnya. Jadilah mereka balas-balasan menimpuk dengan kue. Apa yang dilakukan Rasulullah? Ternyata beliau hanya menonton sambil tertawa.
Begitulah, tidak semua masalah harus dipikirkan dan diselesaikan. Karena beberapa masalah, termasuk pertengkaran seperti itu, akan selesai sendiri. Karena masalah itu tidak mengancam hal yang asasi: misi kerasulan. Tentunya setelah semua elemen menyadari betul apa misi besar mereka. Beberapa masalah hanya merupakan bumbu penyedap dan dinamisator perjalanan bahtera rumah tangga yang panjang.
#5 – Fitnah yang Mengancam
Pasukan muslimin sudah jauh meninggalkan Aisyah menuju Madinah. Aisyah tertinggal rombongan. Ia berharap mereka akan menyadari bahwa beliau tertinggal dan kembali lagi. Tapi ternyata tidak. Ia kemudian pasrah kepada Allah. Beruntung, datanglah seorang sahabat laki-laki yang menemukan beliau. Akhirnya Aisyah pulang dengan menunggani unta sementara si sahabat lak-laki berjalan di depan.
Tetapi di Madinah suasana tidak setenang biasanya. Ada kabar bahwa Aisyah berselingkuh. Berita ini menyebar. Orang-orang menjadi ragu. Aisyah yang sampai di Madinah tidak tahu akan berita itu sampai dua bulan kemudian. Tapi Aisyah dapat merasakan perbedaan sikap Rasulullah yang mendingin terhadap dirinya. Ia jatuh sakit. Keadaan baru menjadi “clear” setelah turun wahyu yang menyatakan Aisyah bersih tak bersalah.
Inilah pelajaran berharga bagi umat Islam tentang besarnya bahaya fitnah. Karena itulah kita (dan keluarga kita) tidak hanya diperintahkan untuk menjauhi maksiat, tetapi juga menjauhi fitnah. Karena fitnah ini besar bahayanya, bukan hanya mengancam pribadi sang da’i, melainkan juga stabilitas da’wah yang diembannya.
Wallahu a’lam bishowab.
Referensi:
Serial Cinta, karya Anis Matta
Rumah Tangga Rasulullah, karya Hamid Al-Husaini
Desember 31, 2008 at 7:43 am
[...] Pernikahan Nabi Muhammad SAW dengan Aisyah RA dan Dakwah Pasca Nikah [...]
Februari 17, 2009 at 10:55 am
keren banget……..
menyentuh, pkkx cerita nya menarik n bagus banget…….
klo bisa kuarin la donk yang bagus2 ok
Juli 14, 2009 at 6:38 am
aKu suka banget dengan ceritanya…….
ada bukunya gak?
kalau ada, judulnya apa?
n’ harganya berapa yah biasanya?
please bales yups…
Juli 18, 2009 at 3:12 am
Mau tanya pernikahan aisyah denga Nabi Muhhamad SAW dikaruniai anak nggak ?
April 17, 2013 at 7:48 pm
enggak da anak..
September 17, 2009 at 4:03 am
kenapa ceriata rasululah tidah dibua dalam sebuah filem
tentang istri-istri tauladan pada suami.
Oktober 23, 2009 at 7:53 am
bahasannya mantabh
Februari 11, 2012 at 5:56 am
ok,siiiip. slamat mraih impianmu. dngan bergabung di pt.melianature indonesi
Februari 11, 2012 at 6:02 am
balas di. eko_zaina@yahoo.com
Desember 25, 2009 at 1:43 am
cerita tentang aisyah selalu membuat saya p[enasaran jadi plis donk kalo ada lagi kirim ke emailnya aku
Januari 31, 2010 at 6:14 am
Subhanalah aisyah……
saya pengen seperti Engkau,,,
Mei 14, 2010 at 9:32 am
Semoga Allah memberikan kita keluarga yg sakinah seperti indahnya kluarga Rasulullah
Juni 14, 2010 at 2:52 am
Maha Suci ALLAH,,,,,,,,,,,,,,,
aqUe jga ingin mnjdi sprti amOe,,,,,,,,,,,,,
smoga allah mengabul kan…..
Juli 9, 2010 at 9:36 am
txs atas artikelnya
Juli 14, 2010 at 8:36 am
BELAJARLAH DARI AISYAH WAHAI KAUM PEREMPUAN YANG MEMBACA CERITA INI!!!!
Oktober 8, 2010 at 1:37 am
tersentuh d jiwa ku ktika mghayati kisah2 mereka..
Oktober 14, 2010 at 6:09 am
subhanallah … boleh saya cuplik tulisannya sebagai bahan renungan ya. terima kasih sebelumnya
November 5, 2010 at 8:43 am
ma’f Q mo tx nie..
pa bnar nabi mnikahi asyah pda umur 9 tahun..??
April 17, 2013 at 7:54 pm
aisyah dinikahi ketika umur 6 thn..tapi aisyah tinggal bersama rasulullah ketika umur 9, dan dia tidak pernah disentuh..aisyah menjalani tangungjwb sbg istri ketika umur akal sudah matang iaitu 15 tahun dan waktu itu rasulullah menyentuh dia.(hubungan suami-istri)
November 24, 2010 at 7:41 am
iiiih qeren bnged c .. semoga ajh aq bisa jadi wanita soleha seperti khadijah dan aisyah ..
amiiin
Februari 22, 2011 at 6:46 am
Y Allah, q jga ingin mndpatkan cnta sjti sprti Aisyah
n ksbaran sprti Khadijah
critanya mantabh
Februari 28, 2011 at 4:43 am
wah…. bagus buanget mudah mudahan semua wanita didunia ini seperti aisyah dan khadijah
Juni 20, 2011 at 7:39 am
ingin menjadi aisyah meski tak bisa sesempurna beliau….ijinkan hamba ya Rabb…
Februari 11, 2012 at 6:03 am
amiin. dngan membaca byak sholawat YAA SAYIDII YAA ROSSULULLOH, smg ALLOH mngabulkan…..insya alloh.
Desember 7, 2011 at 4:36 am
patut di jadikan contoh sikap khadijah dan aisyah
Januari 16, 2012 at 8:41 am
subhanallah…
Aisyah ra inspirasiku,
Januari 19, 2012 at 12:11 am
insya allah mudah mudahan istriku bisa seperti mereka amin ya rob
Maret 12, 2012 at 7:40 am
subhannallah… aisyah menjadi contoh tauladan bagi perempuan muslimin begitu jg khadijah…
aq berharap bisa seperti khadijah dan jg aisyah,
dua wanita yg mnjd inspirasi…
April 3, 2012 at 5:19 am
subhannallah,,cerita ini merupakan ssuatu yg ptut untuk d ambil contah buat qt..
Mei 11, 2012 at 12:18 pm
terlintas d pikiran saya, apa bner ke 2 istri rasulluloh menerima keadaan itu dng setulus hati,
Jujur klu saya tidak akan sanggup menyaksikan hal kyk gtu.
Mungkin sekedar membaca kisah d atasa akan kedengaran indah, tp mngalaminya entalah..
September 29, 2012 at 4:32 am
subhanallah …. so sweet ..
September 29, 2012 at 4:35 am
semoga kisah nabi dan aisyah seperty kisahku nanty ….
amiien
September 29, 2012 at 6:12 pm
Semoga Aq nti. Bs dpt suami yg memiliki sifat2 kepemimpinan dan penyayang seperti Nabi.
Amin ya robbal ‘alamin…
April 3, 2013 at 4:25 am
artikelnya bagus banget,,,
Mei 22, 2013 at 9:40 am
wahai sang penguasa jiwa raga ini engkaku muliakan kekasihmu nabi muhammad saw, demi dzat mu yg telah mengutusnya hamba mohon dan verdo’a kepadamu, muliakanlah seluruh ummatnya dan juga yg meneruskan membangun jg menyebarkan agama yg dibawanya….
Hamba hayna bisa meneteskan air mata ini dikala membaca dan merenungkan kisah dan sejarahnya, semoga yg buat artikel ini dan yg menyambut baik pada artikel ini diberikan kebaikan kebahagiaan serta rahmat dan lindunganmu sampai akhir nanti amiin.
Mei 22, 2013 at 9:41 am
wahai sang penguasa jiwa raga ini engkau muliakan kekasihmu nabi muhammad saw, demi dzat mu yg telah mengutusnya hamba mohon dan verdo’a kepadamu, muliakanlah seluruh ummatnya dan juga yg meneruskan membangun jg menyebarkan agama yg dibawanya….
Hamba hayna bisa meneteskan air mata ini dikala membaca dan merenungkan kisah dan sejarahnya, semoga yg buat artikel ini dan yg menyambut baik pada artikel ini diberikan kebaikan kebahagiaan serta rahmat dan lindunganmu sampai akhir nanti amiin.